sudut-pandang-berita
Kalau punya sudut-pandang berita, tulisan bisa lebih mendalam, jauh berbeda dari rencana awal penulisan.
in

Menentukan Sudut-Pandang Berita

Panduan lengkap menentukan angle (sudut-pandang) berita yang tidak diajarkan di workshop media online.

Sebelum berbicara tentang bagaimana menentukan sudut-pandang (angle) dalam berita, ada 3 cerita tentang itu.

3 Cerita tentang Sudut-Pandang Berita

Film “Elephant” (2003), karya Gus Van Sant

Di film “Elephant” (2003), Gus Van Sant bercerita tentang sekolah yang mirip gajah. Sepasang anak muda yang kesepian, kecanduan video games, dan terasuki ideologi Neo-Nazi, memesan senjata secara online, kemudian datang ke sekolah, dan menembaki kawan-kawannya sendiri.

Sekolah, dalam film itu, digambarkan penuh aktivitas yang terpisah dan berbeda-beda. Ada siswa yang tertarik pada fotografi, menjadi pustakawan, rapat, dll. Dan siswa yang merasa misfit (tidak pada tempatnya, di sekolah itu) sering merasa “sunyi” di tengah keramaian kantin, depresi, antisosial, dan nggak betah mengalami sekolah.

Menariknya, Gus Van Sant menghadirkan sekolah sebagai “gajah”.

Alan Clarke, sebelumnya pernah membuat film “Elephant” (1989), menceritakan tentang “gajah”. Judul ini, berasal dari idiom “elephant in the room”, yang berarti “masalah besar di depan mata yang orang tidak mau membahasnya”. Masalah korupsi dan kemiskinan adalah contoh “gajah di dalam ruangan”.

Sekolah, pendidikan, juga demikian. Realitas “biasa” yang perlu ditampilkan dari beberapa sisi. Agar penonton bisa menilai sendiri.

Di film “Elephant” (2003), Gus Van Sant menceritakan “gajah” dari cerita 3 orang buta yang diminta mendeskripsikan seperti apa gajah. Ketiga orang buta ini, masing-masing mendeskripsikan gajah dengan cara berbeda.

Gus Van Sant bisa menunjukkan, semacam inilah gagasan sekolah sebagai “gajah”, di mana para penonton (dan pengamat pendidikan, mungkin) berpeluang menjadi 3 orang buta. Selalu salah mendeskripsikan gajah jika tidak melihat semua aspeknya.

Berita bukanlah fotografi yang dibingkai.

Dulu ada istilah “framing” (pembingkaian) untuk menjelaskan angle, namun ini sudah tidak memadai. Pada jurnalisme online, berita bisa “running”. Berita sebelumnya bisa dianulir dengan berita yang lebih baru, bahkan caranya menampilkan-ulang realitas bisa menggunakan dukungan fotografi dan audio-visual. Berita bisa menampilkan realitas dari banyak sisi, secara bersamaan.

Framing sudah bukan zamannya lagi. Berita bukan “3 orang buta yang memegang gajah”. Berita bukan sebuah gambar yang hanya bisa dilihat dari 1 sisi saja.

Dalam bentuk apa Gus Van Sant menunjukkannya di film “Elephant”?

“Elephant” (2003) bukanlah jenis film cerewet. Biasanya, saya melihat seberapa panjang dialog dari ukuran file subtitle. Jika di bawah 92KB biasanya film action. Subtitle “Elephant” (2003) kurang dari itu.

Gus Van Sant menampilkan “camera angle” yang berbeda-beda, pada adegan sama. Ia mendekonstruksi sudut-pandang penonton dengan menampilkan “saya” (penonton) yang berbeda-beda.

Sekarang, “saya” (penonton) menggunakan mata sebagai Eric, yang berjalan di lorong sekolah. Berikutnya, “saya” (penonton) menjadi Michelle, yang berada di salah satu ruangan yang dilewati Eric tadi, pada “waktu yang sama”. Hampir di setiap adegan di sekolah, teknik ini digunakan Gus Van Sant.

Ia sangat memperhatikan detail visual. Warna dalam film ini sangat tenang, dengan pengambilan mirip candid. Ia terkenal dengan tracking dan ghost shots.

Sejak awal, penonton tidak melihat hanya dari 1 sudut pandang, pada adegan di waktu sama.

Membuat Pengertian “Hidup” dari Kematian

Ada lagi sebuah cerita, tentang orang tua yang sedang menjemput kematian.

Ia ingin mencari, siapa yang layak menguburkan dirinya kelak. Kemudian, ia naik mobil dan berkeliling, menawarkan jasa mengantar mereka secara gratis.

Beberapa orang, sempat numoang naik dan mau berbincang dengan orang ini, sepanjang jalan.

Tidak ada yang dipandang layak menguburkan dirinya kelak. Sepanjang jalan pula, ia masih merahasiakan niatannya untuk mencari siapa yang layak menguburkan dirinya.

Akhirnya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang masih sekolah. “Mengapa kamu sekolah? Apa cita-citamu kelak?”.

Tidak disangka, anak kecil ini bertanya, “Mengapa kamu bertanya seperti itu? Apakah kamu sedang menghadapi kematian dalam waktu dekat?”.

Anak kecil ini mengalami keceriaan, meraba-raba seperti apa dunia itu. Mengapa orang-orang tua berperang, berdebat tentang politik yang tidak ia mengerti. Anak kecil ini telah mengalami zaman yang berbeda dari orang tua tadi. Kekesalan dan kelelahan yang dihadapi orang tua ini, bukanlah bagian dari kehidupan anak kecil ini.

Kebijakan orang tua ini tidak bisa dipakai untuk menghakimi kehendak dan mimpi anak kecil ini.

Berhadapan dengan anak kecil ini, harapan orang tua ini menjadi lebih terang.

Tadinya sekadar mengantar, setelah tahu “persepsi” anak kecil ini, ia merasa masih ada waktu untuk membuat masa depannya menjadi lebih baik. “Aku akan mengantarmu, ke manapun kamu mau.” Orang tua yang hampir putus asa ini, akhirnya dapat menikmati setiap detik yang tersisa dan pelan-pelan mengubah perspektifnya tentang hidup.

Keduanya akhirnya bersahabat karib.

Realitas membutuhkan sudut pandang. Seseorang mengadili (membuat “judgement”) dunianya sendiri dengan cara yang tidak “fair” (adil) karena kedua matanya membutuhkan pemandangan yang berbeda.

Dunia terus berubah, dan bisa berubah menjadi lebih baik, seperti orang tua yang melihat harapan dan perubahan itu, dari sosok anak sekolah di film Iran itu.

Seorang penulis harus memiliki.mentalitas memberikan harapan..Jika seorang penulis tidak memiliki optimisme, artinya ia tidak percaya keadaan yang lebih baik akan terjadi.

Seburuk apapun realitas, ada jalan keluar untuk menjadi lebih baik.

Teriakan yang Tepat, untuk Kedua Pihak

Cerita berikutnya, datang dari kereta bawah-tanah (subway) di Jepang.

Ada 2 orang anak kecil sedang bermain di tengah kereta. Gaduh sekali. Para pekerja yang duduk dan memanfaatkan waktu senggang untuk tidur sejenak di kereta api, mulai terganggu. Bapak dari kedua anak tadi, tampak sedikit tersenyum, tetapi tidak sepenuhnya tersenyum. Sepertinya ia masih bersedih. Hanya agar anaknya tetap gembira, ia berusaha tersenyum.

Para pekerja mulai tidak sabar. Ada yang menegur anak kecil itu, ada juga yang menegur kawannya, memintanya membiarkan anak kecil itu. Kedua anak kecil itu tak peduli, sedangkan pekerja yang meningatkan dan yang melerai sama-sama meninggi perdebatannya.

Pada saat itu, berteriaklah bapak dari kedua anak tadi, “Diam!”.

Kepada siapa ia berteriak? Kepada anaknya? Para pekerja? Ataukah kepada kegaduhan yang terjadi?

Tidak jelas, untuk siapa kata itu. Terucapkan, namun mengandung pesan tersirat, yang belum terjelaskan.

Kedua anaknya berhenti. Orang-orang berhenti berdebat, seketika.

Pada kesempatan “diam” seperti itu, bapak kedua anak tadi berkata, “Kalian tahu, kedua anak ini baru saja kehilangan ibunya. Sekarang mereka baru mau berbicara karena kuajak naik kereta api bawah-tanah, tempat kalian, para pekerja yang ramah. Jangan gaduh.”

Kalimat itu tertuju kepada para pekerja, namun setelah mendengarnya, tidak ada orang marah lagi. Anak-anaknya bermain, namun sudah tidak terlalu ribut.

Sudut-pandang berita, bukanlah pemihakan partisan. Sudut-pandang bukan demi mencari makna dan kebenaran tunggal. Sudut-pandang harus tetap faktual. Tidak boleh berbohong. Mencari perhatian. Memfilter informasi. Memperlihatkan perspektif (cara-pandang).

Sudut pandang berita, dapat kita pelajari dari ketiga cerita di atas.

Konsepsi realitas, ketika menjadi “cerita” (“story”, juga berarti “tulisan” atau “berita”) berada di atas waktu yang “diam”. Satu kejadian, dipandang dari beberapa sudut, untuk menghadirkan “kejadian sebenarnya”. Penulis memberikan kepingan demi kepingan, rekaman CCTV, cross-check, dari banyak sisi agar keutuhan tersampaikan. Sudah tidak zaman lagi menggunakan teori “framing” dalam berita.

Realitas, seperti “sekolah” dalam film “Elephant” (2003) tersebut. Berisi orang-orang yang mengalami “sekolah” dengan cara mereka masing-masing. Ledakan dan duka belangsung tanpa “warning”.

Tiba-tiba ada serangan, kejutan, dan keadaan mengejutkan. Tiba-tiba ada korupsi, bencana alam, dll. Sebenarnya, tidak ada “tiba-tiba”..

Dengan menggunakan prinsip-prinsip jurnalisme, seorang penulis mengajak orang memasuki kembali “realitas” tadi dari dalam, dari banyak sisi, agar tidak melihatnya hanya sebagai konstruksi dan kekacauan.

Angle dalam berita adalah persoalan memilih di mana “saya” berdiri. Angle memfilter sekian banyak kemungkinan lalu menampilkan denan cara “begini”.

Dalam menulis, kita tidak sekadar mendokumentasikan realitas. Bukan seperti orang-tua bijak yang merasa sudah selesai dengan dunia ini dan mencari siapa yang layak menguburkan dan mengenang-dirinya. Bukan sekadar mem-forward apa kata narasumber.

Realitas berhasil jika ada kelanjutan, jika setiap moment yang masih tersisa memiliki peluang “perbaikan” (“improvement“, bukan “fixing“) agar hidup semua orang menjadi lebih berharga.

Angle dalam tulisan tidak untuk menyakiti orang tetapi untuk menghilangkan rasa-sakit (bernama: masalah, inefisiensi-waktu, fake news, dll.) dan mencapai nilai (kebergunaan) yang lebih baik.

Menampilkan sudut-pandang juga tentang bagaimana menarik perhatian, dengan cara dan moment yang tepat. Ini dicontohkan dalam adegan seorang bapak yang berteriak di kereta api bawah-tanah tadi.

Teriakan yang tidak menghardik, tetapi meminta perhatian, dan berasal dari fakta. Kepada anak yang gaduh, bercerita tentang orang lain dalam satu kereta  yaitu para penumpang lain yang butuh tidur sebentar dan membaca. Sekaligus kepada para pekerja agar mengerti bahwa kedua anak yang gaduh itu baru saja kehilangan ibunya.

Ringkasan Gagasan tentang Sudut-Pandang Berita

Apakah Sudut-Pandang dalam Berita itu?

Angle adalah titik #fokus di #awal berita, lensa di mana penulis #memfilter informasi yang telah ia dapatkan.

Satu tulisan bisa berisi beberapa angle.

Angle biasanya tersirat. Yang disampaikan terlalu apa adanya, sudah pasti ketahuan dan terkesan tidak jernih lagi.

Berita memiliki 3 sifat bawaan: baru (new), berbeda (different, interesting), dan sedang-berubah (changing). Ketiga hal inilah yang dimainkan, agar menarik.

Setiap menulis berita, pikirkan ini:

  • Informasi apa yang #terpenting dalam berita ini?
  • Berita ini mau bicara apa?
  • Apa yang sudah pernah dikatakan atau dilakukan orang tentang peristiwa ini? Agar tulisanmu berbeda.
  • Apa yang akhir-akhir ini terjadi?
  • Fakta apa yang paling menarik (berbeda, tidak biasa) bagi pembaca?

Gagasan sebuah berita itu #jelas jika bisa diringkas menjadi 1 kalimat atau 1 paragraf singkat. Jika kalimat itu masih belum jelas, cari sampai menjadi kalimat utuh.

Cobalah berlatih dengan membaca 5 berita kemudian ringkas per berita itu menjadi 1 kalimat atau 1 paragraf. Kalau kamu bisa meringkas berita, besar peluang kamu bisa menguraikan fakta dengan sudut pandang berbeda.

Jangan melakukan generalisasi karena generalisasi adalah lawan dari kebaruan. Sekali kamu menulis “sebagaimana orang lain”, kamu hanya menjadi orang lain, melakukan pengulangan (repetition) dan klise. Sebisa mungkin, jangan biasakan copy-edit, jangan menulis dengan cara bersila di depan laptop atau menunggu CC (carbon-copy). Seringlah melakukan riset sendiri, setiap hari.

Buat ringkasan, hanya yang benar-benar ringkas dan berguna, sebagai keterangan. Ini sangat penting dalam “running news” di mana berita dalam 1 keyword (ini artinya, berkaitan dan bisa tentang 1 issue yang sama) selalu dibuat berkelanjutan.

Lebih baik berpijak pada 1 point-of-view yang jelas, daripada melakukan dugaan dan membela asumsi.

Angle sering gagal karena data awal yang buruk. Jika bermasalah dalam penggalian data, sudah pasti angle akan bermasalah. Kalau wawancaranya jelek, hasilnya akan “gitu-gitu aja”.

Menulis berita itu tidak sama dengan mengarang. Harus faktual.

Menentukan Sudut-Pandang dengan Nilai Berita

Nilai-nilai berita, yang dikombinasikan, bisa menjadi awalan untuk membuat angle.

Gunakan daftar nilai-berita berikut ini, untuk memeriksa atau membuat angle.

  • Timing. Relevan untuk saat ini, sedang berlangsung, ngehit, “happening”.
  • Signifikansi. Pengaruh. Relevansi. Makna atau akibat berita ini terhadap orang banyak.
  • Identifikasi. “Saya” (atau yang seperti saya) ada dalam pemberitaan ini.
  • Sensasi. Memukau, mendadak, mengejutkan. Aneh.
  • Konflik. Siapa melawan siapa, pertarungan kepentingan, perjuangan, kekalahan, dll.
  • Penting (Prominence). Apa saja yang datang dari news maker (seperti: tokoh) tu penting.
  • Baru. Jarang. Misteri yang selama ini belum terpecahkan.
  • Mengatasi Masalah. Ketidaktahuan, diatasi dengan informasi. Kejenuhan, diatasi dengan hiburan dan kejutan. Menjawab pertanyaan. Memberitahukan bagaimana-caranya.
  • Human Interest. Ketertarikan manusia.
  • Proximity. Kedekatan dengan dunia yang dialami pembaca.

Kamu bisa membuat kombinasi, persilangan, dan menjadikannya sudut pandang.

Buatlah sebuah judul berita, kemudian lihat daftar di atas. Berikan tanda cek (bisa 1 atau lebih) pada nilai berita di atas. Semakin banyak, semakin menarik. Tidak mungkin semuanya masuk ke dalam 1 judul (tulisan).

Atau jika belum bisa membuat judul, coba cari beberapa berita yang menurutmu menarik, kemudian cocokkan dengan cara seperti di atas: lihat judulnya kemudian beri tanda cek pada nilai berita di atas.

Jika ada yang belum termasuk, kamu bisa membuat category nilai-berita sendiri.

Menentukan Sudut-Pandang dengan Memperdalam 5W+1H

Uraikan 5W+1H menjadi lebih banyak, lebih dalam.

Ini cara andalan saya setiap membuat indepth dan menulis artikel. Apa yang disebut “tajam” tidak lain adalah mempertajam 5W+1H.

5W+1H terdiri dari Who (Siapa), What (Apa), Why (Mengapa), When (Kapan), Where (di Mana) + How (Bagaimana).

Saya menambahkan “Whom” (Siapa-Obyek), Which One (yang Mana), dan What-If (Apa Jadinya Jika).

Boleh saja menambahkan, karena jurnalisme merupakan disiplin yang selalu terbuka, cara orang mengolah fakta juga semakin canggih.

Who (Siapa)

Siapa tidak selalu berupa “seseorang” (manusia). Siapa bisa berupa lembaga.

“Siapa” bisa berupa bencana alam, misalnya dalam berita: “Sesuai Prediksi BMG, Gempa 3.2R Kembali Guncang Semarang”).

Atau sebuah lembaga, misalnya dalam berita:
“BMKG: Tanggap Bencana Bisa Kurangi Resiko Kematian”.

“Who” (siapa) adalah #subyek (pelaku) dalam peristiwa. Dengan catatan, kata “subject” juga bisa berarti “persoalan yang dibahas”, misalnya dalam “subyek penelitian”.

Setiap “who” pasti memiliki “identitas” yang rumit. Jangan membatasi “who” hanya pada 1 manusia atau 1 pelaku. Kamu bisa mencapai keunikan jika identitas subyek ini kamu tentukan.

Jelaskan, “siapa” yang sedang kamu bicarakan dalam peristiwa. Ketika kamu memberitakan “Grace Natalie”, tentukan “identitas” Grace sebagai “siapa”? Apakah ketua partai, jurnalis, perempuan, atau pendukung Jokowi? Tentukan identitas “siapa”.

Tujuan menentukan “identitas” dari “who” bukan untuk mencari identitas tunggal, tetapi untuk memperlihatkan jaringan identitas dari “who” bernama Grace Natalie. Jika “who” hanya dipandang sebagai identitas-tunggal (bahwa Grace Natalie adalah ketua partai PSI), tentu tidak banyak yang bisa dikuak dan kurang menarik jadinya.

Identitas itu sebuah jejaring, berkaitan dengan: hubungan (relasi), peran-sekarang, aktivitas, posisi, sikap, dst.

Ini daftar yang biasanya saya pakai. Ada yang saya pakai sebagai pertanyaan-langsung, ada yang saya pakai hanya ketika menganalisis “siapa” dalam suatu peristiwa.

  • Siapa orang ini atau lembaga ini?
  • Siapa yang berwenang di sini?
  • Siapa yang lebih berkuasa dari yang berwenang di sini?
  • Siapa yang memulai? Siapa yang mengubah permainan?
  • Siapa yang tidak disebut? Siapa yang menghalangi?
  • Siapa yang berubah dari merah menjadi biru?
  • Siapa yang paling.. ?
  • Siapa yang lebih.. ?
  • Siapa yang meminta korban?
  • Siapa perwakilan dari kelompok ini?
  • Siapa yang pertama kali melakukan?
  • Siapa yang paling terkena dampaknya?
  • Siapa yang mengaku paling dirugikan?
  • Siapa tokoh di balik peristiwa ini?
  • Siapa yang berkompeten namun tidak mau menjawab?
  • Siapa “pahlawan” sebenarnya dari peristiwa ini?
  • Siapa yang tahu kelemahan orang atau lembaga ini?
  • Siapa yang sudah berhubungan-baik dengan “siapa” ini?
  • Siapa yang mendanai?
  • Siapa yang berhasil?
  • Siapa yang tidak mau hadir?
  • Siapa yang tidak setuju?
  • Siapa lagi yang bisa saya hubungi?
  • Siapa yang pernah merintis tetapi gagal?
  • Siapa yang bikin istilah ini pertama kali?
  • Siapa yang salah dalam memahami kejadian sebenarnya?
  • Siapa yang akan menganggap tulisan ini bermasalah?
  • Siapa yang memulai masalah?
  • Siapa yang mengubah permainan?
  • Siapa yang paling diuntungkan?

Pada daftar pertanyaan di atas, yang penting dapatkan datanya. Tidak semuanya harus masuk ke dalam tulisan.

Gunakan tanda cek, pilih yang relevan dengan apa yang ingin kamu singkap.

What (Apa)

“What” (Apa) menjadi pertanyaan mendasar. Dan sering menghasilkan kontroversi.

Jika kamu menjelaskan “apa” itu internet, jawaban orang bisa berlainan. Ada yang menjawab berdasarkan teks buku, Wikipedia, berdasarkan pengalaman, keahlian, dan versi “saya” menurut mereka.

“Apa” tidak pernah berada dalam pengertian baku dan definitif. “Apa” selalu “menjadi” (becoming). Pengertian “uang” antara sebelum dan sesudah manusia mengenal cryptocurrency sudah berbeda.

Mendefinisikan “apa”nya sesuatu, dalam suatu kalimat yang tepat, tidak akan tepat. “Apa” hanya bisa dijelaskan dengan hal-hal yang berkaitan dengan “apa”.

“Apa” (sebagaimana “siapa”) juga bersifat “relative” (saling-hubung) dengan hal lain.

Ketika mau merancang in-depth, sebernarnya yang disebut “tema” adalah “what” (apa).

“What” sangatlah luas. Tema pada kebanyakan jurnal ilmiah, analisis, dan bisa didekati oembaca dari banyak sisi.

“Apa” adalah kunci dalam menjelajahi tema pembicaraan.

Mendalami.”apa” membutuhkan pengetahuan. Bukan rahasia, setiao penulis harus selalu mempelajari apa yang mereka tuliskan.

Jadi, untuk mempertajam “apa”, yang perlu dilakukan adalah “mendaftar” apa saja yang terkait dengan “apa”. Tujuannya bukan mencari “apa yang sesungguhnya” dari suatu peristiwa.

Dalam “9 Prinsip Jurnalisme”, kebenaran itu lebih dari sekadar akurasi. Jurnalis mengejar kebenaran yang tidak berat sebelah (fair, adil).

Jurnalistik bersifat reaktif dan praktis, ketimbang filosofis dan introspektif. Kebenaran dalam jurnalisme adalah bentuk kebenaran yang bisa dipraktikkan dan fungsional. Wartawan perlu mengembangkan prosedur dan proses untuk sampai pada kebenaran fungsional. Wartawan harus bisa membahasakan kebenaran-fungsional kepada warga negara.

Pembaca tidak harus menjadi sarjana pertanian untuk berhasil menanam tembakau. Pembaca tidak harus mengerti seluruhnya peristilahan ekonomi untuk tahu bagaimana pasar saham bekerja dan mempengaruhi hidup mereka.

“Apa” adalah peristiwa itu sendiri, yang kamu beritakan.

Orang biasanya bertanya tentang berita, dengan kalimat seperti ini: Ada peristiwa apa di tempatmu? Ada apa di desamu? Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang kamu pikirkan? dst.

Ini daftar yang saya pakai untuk mempertajam “what” (apa).

  • Apa yang terjadi?
  • Apa yang bisa saya deskripsikan dari kejadian ini?
  • Apa nama atau istilahnya (secara resmi, atau ilmiah, atau menurut publik)?
  • Apa yang “salah” dari peristiwa ini?
  • Apa nama acaranya, menurut publikasi dari pihak penyelenggara?
  • Apa yang kurang?
  • Apa nama mekanisme iatau proses ni?
  • Apa nilai (fungsi, guna, manfaat) di balik berita ini?
  • Apa yang kamu tawarkan?
  • Apa detail yang bisa saya tambahkan?
  • Apa yang tidak perlu saya masukkan?
  • Apa BTS (behind the scene) di balik peristiwa ini?
  • Apa pemahaman yang telah lama berlangsung?
  • Apa yang akan terjadi, menurut prediksi para ahli, atas peristiwa ini?
  • Apa ini sesuai dengan peraturan?
  • Apa saja yang bisa menggagalkan ini?
  • Apa yang bisa saya dapatkan tanpa perlu bertanya secara-langsung?
  • Apa piranti selain tulisan, yang saya butuhkan untuk menjelaskan masalah ini?
  • Apa sebenarnya keinginan publik dalam dialog ini?
  • Apa yang yang sedang terhambat?
  • Apa kekuasaan yang sedang beroperasi di sini?
  • Apa saja asumsi lama yang bisa saya pertanyakan?
  • Apa yang membuat masalah ini berlarut-larut?
  • Apa solusinya?
  • Apa pernyataan-langsung yang harus saya dapatkan?
  • Apa dokumentasi peristiwa ini yang hanya disebut namun tidak terpublikasikan?
  • Apa data kunci yang harus ada?
  • Apa jembatan untuk menghubungkan pihak yang mengalami konflik?
  • Apa yang tampaknya tidak terkendali?
  • Apa yang tidak sesuai antara penampakan dan aslinya?
  • Apa yang tidak sesuai antara harapan dan realisasinya?
  • Apa yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya?
  • Apa pengaruhnya terhadap pihak ini?
  • Apa kata sumber anonim?
  • Apa yang harus saya cross-check?
  • Apa yang belum jelas?
  • Apa yang perlu saya sertakan dalam detail? Foto, infografik, audio, video?
  • Apa yang enggan dibicarakan orang tetapi menjadi masalah nyata?
  • Apa perbedaan pendapat yang terjadi tentang peristiwa ini?
  • Apa bentuk implementasinya?
  • Apa yang bisa kamu ajarkan kepada pembaca?
  • Apa yang bisa mengubah permainan?
  • Apa contohnya?
  • Apa yang kamu tawarkan?
  • Apa yang bisa mempermudah?
  • Apa saja hal buruk yang perlu diantisipasi sebelum masalah ini datang?
  • Apa peraturan yang ada?
  • Apa yang menarik secara emosional?
  • Apa yang menyimpang dari dugaan?
  • Apa yang seharusnya dijalankan?
  • Apa saja data dan fakta yang harus ada?

Why (Mengapa)

“Why” (mengapa) termasuk pertanyaan menakutkan, misterius, sekaligus paling dicari dalam penulisan.

“Why” menunjukkan perbedaan argumentasi, menampilkan informasi yang sudah kamu filter (inilah sesungguhnya angle dalam berita: memfilter informasi).

Bedakan antara “lengkap” dan “fokus”. Angle harus punya fokus. Angle tidak harus menampilkan semuanya secara lengkap.

Ada pertanyaan “Mengapa ayam menyeberang jalan?”. Kamu punya 2 pilihan. Menampilkan semua (lengkap) pendapat tentang peristiwa itu, ataukah memilih (fokus) analisis yang paling tepat? “Angle” itu persoalan “memfilter” informasi menjadi sudut-pandang “saya” (penulis).

Khusus untuk “why” (mengapa), jangan bertanya secara langsung, “Mengapa ini terjadi?”. Simpan pertanyaan itu untuk diri-sendiri dalam memaparkan konteks dan analisis.

“Why” (Mengapa) bisa dipertajam dengan daftar pertanyaan.

Beberapa jurnalis sering bertanya, “Mengapa hal ini terjadi?”. Ini hampir sama dengan pertanyaan, “Mengapa kamu melakukannya?”.

Ada 3 hal yang kurang menguntungkan jika bertanya “Mengapa kamu melakukannya?”:

  1. Itu semacam “tuduhan” yang tidak mau tahu konteks peristiwanya. Sepertinya sesuatu yang “salah” telah terjadi. Ini bukan pertanyaan “positif”;
  2. Pertanyaan ini memicu reaksi untuk “melawan” atau “melarikan-diri”. Orang sering menjawab sebaik-mungkin atau (sebaliknya) mengelak menjadi sama-sekali tidak mau menjawab, ketika mendapatkan pertanyaan yang “mengancam” seperti ini. Narasumber berkemungkinan besar akan menutupi fakta yang penting;
  3. Jawaban atas pertanyaan ini, tidak mengubah apapun. Kebakaran sudah terjadi. Tanggul sudah jebol. Kalau dapat jawaban, kamu hanya menceritakan “masa lalu”.
  4. Pertanyaan ini, lebih sering menghasilkan “opini”, bukan “fakta”.

Jadi, bagaimana mengubahnya?

Jika hal yang telah atau akan terjadi ini berasal dari pengambilan keputusan, ubah pertanyaannya menjadi:

  • Mengapa memutuskan untuk.mengambil.langkah ini?
  • Alternatif apalagi yang sudah dicoba?
  • Apa akibat berikutnya, setelah proses ini dijalankan?
  • Mengapa pencegahan atau antisipasi pada proses tersebut gagal?

Tujuan bertanya bukan hanya memforward jawaban menjadi kutipan-langsung di tulisan.

Jurnalis bertanya untuk:

  1. Mencari jawaban;
  2. Mengetahui konteks;
  3. Meningkatkan percakapan dan melampaui draft wawancara yang telah disiapkan sebelumnya.

Cobalah berlatih setiap hari, dengan menanyakan sesuatu kepada kawan, kemudian perhatikan “konteks jawaban”, kemudian kembangkan menjadi pertanyaan lanjutan.

“Mengapa” dapat diuraikan menjadi begini:

  • Mengapa baru sekarang?
  • Mengapa biayanya mahal?
  • Mengapa tidak berjalan sesuai peraturan?
  • Mengapa reaksi yang terjadi berbeda?
  • Mengapa terjadi pelanggaran?
  • Mengapa bersikap demikian?
  • Mengapa tidak menarik bagi publik?
  • Mengapa sulit diselesaikan?

When (Kapan)

“When” berhubungan dengan waktu.

Uraikan penunjuk waktu (jam, hari, tanggal) menjadi deskripsi. “15 Agustus” bisa menjadi “2 hari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI”. “Jam 08:00 GMT+07:00” bisa menjadi “Jam 8 pagi di Semarang”. “2 hari” bisa menjadi “2×24 jam”.

Hubungkan waktu dengan waktu atau peristiwa lain. Terkait dengan waktu, pertanyaannya, “Apakah ini merupakan rutinitas, siklus, atau temporer?”.

Pikirkan tentang 3 hal ini, terkait dengan waktu: durasi, ketepatan, dan kecepatan. Sekarang sedang ngehit, bagaimana wisata dikaitkan dengan durasi: selama sehari, bisa apa saja di sini?W aktu juga berhubungan dengan ketepatan, “Jam berapa, menit berapa?”. Temukan, secepat atau selambat apa, dalam konteks waktu. Bukan dalam konteks cara-melakukan.

Berikut ini, daftar pertanyaan yang biasa saya pakai untuk “when” (kapan):

  • Kapan ini terjadi, tepatnya?
  • Secepat atau selama apa ini terjadi?
  • Kapan ini terjadi menurut sumber lain?
  • Penunjuk waktu ini bisa saya deskripsikan menjadi bagaimana?
  • Seberapa cepat dari “sekarang”?
  • Zona waktu mana?
  • Secepat apa (dalam hitungan menit, jam) dari prediksi?
  • Sesudah atau menjelang apa?
  • Dari sisi waktu, ini terlambat ataukah bentuk antisipasi?
  • Berapa lama lagi peristiwa seperti ini akan terjadi?
  • Kapan orang saya bisa menemui peristiwa seperti ini?
  • Kapan hal yang sama pernah terjadi?
  • Kapan keadaan ini berubah?
  • Selama 2 jam di sini, orang mendapatkan apa?
  • Pada hari yang sama, setahun yang lalu ada peristiwa apa?

Where (di Mana)

“Where” bisa menjadi angle menarik, jika kita memandang “where” sebagai pertanyaan tentang “ruang” (space), bukan “tempat” (place).

Apa bedanya? Tempat itu fisik, sedangkan ruang adalah tempat yang diimajinasikan dengan aktivitas manusia. Stadion olah raga itu tempat, yang biasa untuk bermain bola, tetapi bisa menjadi ruang bermain musik, ruang kampanye. Jadi, kalau ada restoran dipakai untuk lobi politik, berarti kamu berbicara tentang ruang. Tempat yang memiliki fungsi konvensional, bisa bergeser fungsinya. Seperti itulah “ruang”.

“Where” berkaitan dengan pertanyaan “di mana”.
Jawaban untuk “di mana” bukan hanya “nama tempat”.

“Where” adalah “ruang”, di mana manusia mengalami peristiwa. Tidak selalu mengarah kepada “tempat” (fisik). Misalnya, sebuah restoran, biasanya menjadi “tempat makan”, tetapi bisa juga menjadi “ruang” (space) untuk lobi atau workshop.

Ruang adalah tempat yang sudah mengalami fungsinya, sekalipun berubah dari fungsi konvensional.

“Where” bisa berupa nama desa atau kota, nomor urut, venue, Simpang Lima dan sekitarnya, meja makan, restoran anonim, Indonesia Bagian Barat, dst.

Itu sebabnya, sangat menarik ketika ada sebuah halaman parkir dipakai untuk pementasan musik akustik, atau pantai wisata digunakan sebagai venue acara festival layang-layang.

“Where” memiliki nilai berita yang kuat, terkait dengan “relevansi”, “proximity” (kedekatan), dan lokalitas. Semakin mendunia, orang semakin melokal.

Ini yang biasa saya pakai untuk mempertanyakan “where” (di mana).

  • Di mana ini terjadi?
  • Ada apa di sekitar tempat ini?
  • Di mana lagi terjadi peristiwa seperti ini?
  • Di koordinat mana saya bisa tampilkan dengan Google Maps?
  • Tempat ini punya apa lagi? Jarak terdekat lewat mana?
  • Gambar denah (atau blue print) tempat ini seperti apa?
  • Tempat ini awalnya berfungsi sebagai apa selain untuk acara seperti ini?
  • Tempat ini menginspirasi orang untuk melakukan apa?

How (Bagaimana)

“How” (Bagaimana) memiliki banyak fungsi:

  1. Menyingkap detail. Ini juga berarti tulisan akan lebih panjang.
  2. Menjelaskan “gambar besar” (skema, mindmap) dari beberapa peristiwa (berita).
  3. Mempertimbangkan kemungkinan secara lebih terbuka. Ini juga berarti membuat percakapan dengan pembaca.

Biasanya saya menggunakan daftar berikut ini untuk mempertajam “how” (bagaimana).

  • Bagaimana caranya?
  • Bagaimana peristiwa ini terjadi?
  • Bagaimana deskripsinya?
  • Bagaimana ini bisa kita beri nama?
  • Bagaimana prosesnya?
  • Bagaimana detailnya?
  • Bagaimana konteksnya?
  • Bagaimana kenyataannya dibandingkan dengan bagaimana seharusnya?
  • Bagaimana kalau saya ceritakan sebagai “seseorang” yang mengalami peristiwa ini?
  • Bagaimana konfliknya?
  • Bagaimana saya menemukan hal tersembunyi di sini?
  • Bagaimana fokus dari peristiwa ini?
  • Bagaimana saya bisa membuatnya menjadi “tidak jelas” agar lebih panjang?
  • Bagaimana agar berita ini terhindar dari kesalahan-berlogika (logical fallacy)?
  • Bagaimana saya merumuskan peristiwa ini dengan cara yang lebih mudah?
  • Bagaimana kalau data ini tidak saya tampilkan?
  • Bagaimana saya menyertakan sumber anonim kepada pembaca?
  • Bagaimana kalau saya mau menggunakan opini saya dalam berita ini?
  • Bagaimana cara mendapatkannya?
  • Bagaimana peluangnya jika gagal?
  • Bagaimana bentuknya?
  • Bagaimana ini bisa saya buat lebih menarik?
  • Bagaimana kalau saya tambahkan foto, video, embed feed Instagram?
  • Bagaimana saya meringkas peristiwa sebelumnya ke dalam 1 paragraf?
  • Bagaimana prediksi kejadian mendatang setelah hal ini terjadi?

Pengembangan Lanjutan

5W+1H itu terlalu mendasar. Coba kembangkan lebih dalam lagi.

Saya berikan beberapa contoh pengembangan lanjutan.

Whom (Siapa-Obyek)

Jika “who” (siapa) merupakan subyek, jangan lupakan “whom” (obyek). Ini nggak dianggap dalam 5W+1H, bahkan banyak orang tidak bisa menerapkan kata “whom” (dan “whose”) dalam kalimat. “Whom” dan “who” itu sama-sama “siapa”, tetapi “whom” dipakai untuk menceritakan “lawan-bicara” (obyek-siapa dalam pembicaraan). “Whom” dipakai ketika kamu bilang, “Dengan siapa saya berbicara?” atau “Grace Natalie merekrut kader partai #yang bukan berasal dari partai lain”.

Ketika menggali “whom”, berpikirlah tentang obyek. Siapa yang ia ajak bicara? Siapa yang ia singkirkan? Siapa yang ia posisikan dalam lobi?
“Whom” bisa menjadi kekuatan ketika kamu menemukan “siapa-obyek” dalam peristiwa.

“Who fights whom” (Siapa melawan siapa) juga menjadi tema langganan dalam berita politik.
Kalau seorang selebritas mencintai orang biasa, itu bisa menjadi berita.

Which One (yang Mana)

Ini pintasan yang saya pakai jika kehabisan jembatan untuk menghubungkan gagasan. “Yang mana” adalah.. Membuat pilihan. Mendalam. Menentukan.

“Which One” (yang Mana) berbicara tentang disiplin verifikasi, identifikasi, penjelasan spesifik, dan menentukan ke mana orang akan mengarahkan perhatian.

Jika kamu mendeskripsikan Kota Lama Semarang, pikirkan sebuah pertanyaan spesifik: yang mana?
Antara Kota Lama sebelum dan sesudah renovasi, keadaannya mungkin berbeda.

“Which One” (Yang Mana) juga merupakan kata-tanya yang menentukan ketajaman angle.

  • Yang mana yang asli?
  • Peraturan yang mana?
  • Fakta yang mana yang paling rentan terjadi kebohongan dalam berita ini?
  • Dia yang mana yang kamu maksudkan?

What If (Apa Jadinya Jika)

“What If” (Apa Jadinya Jika) merupakan pertanyaan ilmiah yang menghitung kemungkinan, prediksi, peluang.

  • Apa jadinya jika narasumber ini berbohong?
  • Apa jadinya jika bukan begini kejadian sebenarnya?
  • Apa jadinya jika nanti ada pertanyaan begini?
  • Apa jadinya jika kebijakan ini berubah?
  • Apa jadinya jika saya menggunakan sudut-pandang lain dalam peristiwa ini?

Buatlah Kombinasi

Sudut-pandang, sebaiknya jangan dari 1 sudut-pandang. Intinya, cobalah memproses 5W+1H menjadi alternatif yang lebih banyak, kemudian pilih beberapa yang bisa menjadi angle dalam berita.

Buatlah kombinasi dari beberapa pertanyaan di atas, misalnya: kombinasikan “why” dan “where” menjadi pertanyaan: Mengapa terjadi di sini?

Tidak ada 1 unsur yang berdiri sendirian. Semakin terhubung, semakin bagus.

Gunakan Metafora

Metafora merupakan dasar pembacaan realitas. Dasar dari semua penulisan. Termasuk puisi.

“Metafora” adalah metafora dari metafora.

Metafora adalah “mengatakan A dengan yang selain-A”. Katakan dengan ungkapan lain.

Data: Kota X termasuk ke dalam 3 kabupaten termiskin di Jawa Tengah.

Bagaimana menunjukkan “miskin”nya Kota X?

Ini adalah metafora. Siapa yang pintar memainkan metafora, beritanya paling menarik.

Kota X Termiskin Ketiga di Jawa Tengah

BPS: Kota X Termiskin Ketiga di Jawa Tengah

BPS: 15 Tahun Terakhir, Kota X Masih Termiskin Ketiga di Jawa Tengah

Salah Strategi Pengembangan Ekonomi, 15 Tahun Kota X Masih Termiskin Ketiga di Jatengr

Arahkan Perhatian

Untuk apa sudut-pandang jika tidak berhasil mengarahkan perhatian.

Bagaimana Mengarahkan Perhatian?

Kalau kamu meminta orang masuk ke suatu kebun dan bertanya, “Apa kesanmu tentang warna kebun itu?”, kebanyakan orang menjawab nama warna dominan dari kebun itu. Hijau. Kalau kamu memintanya mencari tumbuhan yang berwarna merah dan kuning, mereka akan melakukan scanning. Yang tidak merah atau tidak kuning, mereka abaikan. Pikiran menjadi lebih aktif, ketika harus membuang sesuatu. Berikan pilihan.

Perhatian tidak bisa diarahkan dengan cara menempatkan hal yang aneh.

Mengalihkan perhatian hanya akan lebih diperhatikan, kalau terjadi perhatian-penuh pada hal-hal biasa.

Perhatian adalah elemen kunci dalam persepsi (cara “saya” memandang sesuatu) dalam berpikir.

Setiap kali orang berpikir, mereka “sedang” berada pada bingkai tertentu. Jika perhatian beralih, frame ini juga beralih. “Frame” bukan untuk memasukkan semua hal menjadi 1 bingkai.

6 Frame untuk Menarik Perhatian

Segitiga

Apa tujuan informasi ini?

Segitiga jika diuraikan bisa berarti:

  • Arah Pembicaraan.
    1 dari 3 itu eksklusif. Arahnya ke sana. Lihat ini. Tujuan itu seperti mengisi waktu luang dan menjalankan 1 aktivitas, misalnya: membaca berita di pagi hari selama 30 menit. Kita pilih itu daripada berbicara dengan orang lain.
  • Sadar (awas, awareness).
  • Ketertarikan. Pada akhir cerita. Membandingkan apa yang kamu baca dengan apa yang biasanya terjadi di sekitarmu.
  • Ketertarikan khusus, biasanya pada hobi.
  • Browse dan scan.
  • Kebutuhan dan pencarian.
  • Apa dan di mana.
  • Konfirmasi.
  • Pertanyaan yang sangat khusus.
  • Di mana?
  • Konflik.

Lingkaran

Bidik. Akurasi berarti-tepat sasaran. Terpilih. Melalui disiplin verifikasi.

Lingkaran, bisa berarti:

  • Otoritas. < Menguasai (ahli), menunjukkan kemampuan. Sniper tepat sasaran.
  • Internal checking.
  • Akurat setelah melakukan pembandingan (comparison).
  • Konteks. Ada sesuatu di luar lingkaran. Ada alasan mengapa beberapa hal kita satukan ke dalam 1 lingkaran.
  • Keraguan.
    Keraguan bisa menjadi daya tarik, jika bukan pada informasi utama, tetapi pada informasi tambahan, sehingga orang bisa mencarinya sendiri.

Contoh:
“Teknologi WiFi generasi awal, dikembangkan Angkatan Laut Amerika Serikat (Navy Seals), berawal dari temuan seorang matematikawan sekaligus bintang panas bernama Hedi Lamarr pada tahun 1941. Lamarr yang berpenampilan selalu cantik itu, membuktikan bahwa ada energi listrik di balik gelombang udara, yang akhirnya menjadi temuan berupa teknologi WiFi. Gelombang ini jika dipantulkan kembali dari satelit bisa menentukan lokasi seseorang di manapun di bumi ini, yang kelak dikenal sebagai GPS (Global Positioning System) dan bisa mentransfer file secara nirkabel menjadi teknologi bluetooth.”

Ketika membaca paragraf di atas, apa yang ingin kamu cari lebih lanjut?

Keraguan, semestinya tidak untuk menghancurkan validitas informasi tetapi menyarankan pencarian informasi lebih-lanjut.

Bujur Sangkar (Square)

Square seperti kotak foto Instagram.

Square itu mempermasalahkan bias, obyektivitas, dan netralitas informasi.

Square mengajak pembaca untuk berbicara menurut perspektif mereka sendiri.

Semua slide dan sisi berukuran sama, seperti itulah sudut-pandang berbentuk bujur sangkar.

Bujur sangkar (ingat Instagram), artinya:

  • Sudut pandang. Editorial, opini, artikel, cartoon.
  • Persuasion.
  • Tidak mengklaim-diri netral: bias, persuasif. < Iklan, argumentasi, orasi politik
  • Check and Balance.
    + Gunakan sumber berimbang. Kalau ini konflik, nyatakan dari kedua pihak yang bertikai.
    + Kalau memakai sumber anonim, jangan hanya dari 1 sumber.
    + Jika ingin beropini dalam berita, gunakan pernyataan langsung dari narasumber.
  • Adjective. Kata-sifat membuat berita tak-pernah obyektif.
  • Sudut pandang, seperti.ketika kamu memotret. Keren dari sini, pencahayaan lebuh bagus.
  • Pandangan alternatif dari titik yang sama. Kalau dalam kamera, ini berbentuk “manual focus” atau color grade.

Love (Heart)

Ketertarikan, persembahan, kerja-keras yang berhasil.

Love bisa berarti:

  • Ketertarikan umum.
    Berapa jumlah penduduk Nigeria? < Orang suka jika tahu. Kepingan informasi, lebih diingat.
  • Tambahan. Bonus. Hadiah yang menyenangkan.
  • Hasil Riset. Tunjukkan relevansi dan konteks (ruang, waktu, masalah). Jangan membuat judgement (berdasarkan riset) terhadap apa yang terjadi di sini.
    Ilmuwan mencurahkan lebih banyak waktu tentang cara mengurangi lemak tanpa berolah-raga dan bagaimana agar rambut tetap hitam dan sehat, daripada memikirkan cara mengurangi kemiskinan dan bikin teknologi dengan energi alternatif.
  • Ketertarikan khusus (hobi).
  • Catatan khusus. Saya punya catatan khusus tentang apa yang tidak ada di internet, tentang masalah ini, nggak ada di Google.
  • Mining. Mengaku sebagai ini kepunyaan “saya”. Informasi sensitif, konsultasi kecantikan.

Berlian (Diamond)

Berlian artinya bernilai.

Nilai adalah: fungsi, sesuatu yang diterapkan, kegunaan, manfaat.

Berlian bisa berarti:

  • Kepuasan dalam memenuhi kebutuhan.
  • Pertanyaan yang terjawab.
  • Nilai yang berkaitan dengan ketertarikan, konfirmasi, perbedaan
  • Kesempatan < peluang bisnis, tampil cantik, lebih pintar
  • Sadar ketika melek informasi
  • Memperkaya, membuat lebih cerdas, menjadi lebih ahli.

Slab (Empat Persegi Panjang)

Slab berarti hasil, keberlanjutan. 

Slab artinya:

  • Pembacaan lebih lanjut atas informasi.
    Ini bisa berarti kolom, analisis utama, editorial, dll.
  • Bersambung. Sequel. Serial.

Ingatlah keenam bentuk itu, selanjutnya, uraikan sendiri dalam menentukan angle.

Ada banyak cara mempertajam angle dalam berita namun ini bukan hanya soal editing. Sejak awal merancang, investigasi, menulis, sampai editing, ada banyak kemungkinan akan terjadi perubahan (penambahan, penyuntingan), tetapi harus ada kejelasan, tulisannya mau ke mana dan menyampaikan apa.

Jadikan panduan di atas sebagai daftar-periksa ketika membentuk ide untuk berita, artikel, opini, dan liputan mendalam. Lebih bagus lagi, kalau kawan-kawan punya panduan sendiri. Untuk kebutuhan workshop jurnalistik media online, bisa hubungi alamat kontak. [dm]

What do you think?

12339 points
Upvote Downvote