in

Surat untuk Seorang Kawan, yang Akan Dibaca 1000 Orang

Tulis hanya untuk seorang kawan. Itu berpeluang dibaca 1000 orang lain.

Buatlah tulisan di web, seperti kamu menulis surat untuk seorang kawan. (Credit: Moment to Remember)

Ketika kamu kebingungan bagaimana menuliskan gagasanmu, coba cara ini.

Ambil kertas kosong dan sebuah amplop. Benar-benar amplop. Anggap kamu akan menulis surat untuk seorang kawan. Menulis untuk 1 orang. Hanya kawanmu ini yang akan membaca tulisanmu. Buatlah khusus untuknya.

Efek berbalik akan terjadi. Kalimat lebih tertata, terbayang pembacamu akan seperti apa ketika membaca surat ini. Kamu hanya membayangkan 1 orang.

Saya sering lakukan ini, sehingga bisa menulis ratusan artikel dan opini. Misalnya, ada seorang kawan bertanya, “Bagaimana konstruksi judul yang berpeluang viral?”, “Bisakah saya mengajari siswa SMA menulis dalam sehari, sementara mereka mengaku tidak suka menulis?”. Pertanyaan bisa menjadi inspirasi untuk menulis. Seperti ketika seorang kawan dari jauh menanyakan keadaanmu sekarang.

Anggap saja, kawanmu ini bernama Shinta, atau Bram. Bayangkan kamu berbicara dengan kawanmu melalui suatu surat. Kamu hanya bisa kirim surat ini sekali. Apapun yang kamu tuliskan adalah sebuah kesempatan. Dia akan membaca di waktu singkat. Kamu, sebagai penulis, mendapatkan kesempatan 5 detik untuk membaca judul, jika ia tertarik ia akan klik (buka amplop suratmu). Dalam setiap kalimat dan paragraf, saya selalu bertanya kepada diri-sendiri, “Apa yang akan saya katakan jika kawan saya memberikan waktu 15 detik untuk mendengarkan penjelasan saya tentang subject ini?”. Jika belum bisa menjerat, saya tulis-ulang, melakukan editing, sampai benar-benar ringkas.

Kamu membutuhkan imajinasi, dalam menulis, sekalipun bukan fiksi. Siapa yang akan membaca tulisan ini? Dia dalam keadaan seperti apa? “Bagamana jika..?”.

Dengan kata lain, Shinta atau Bram bukan lagi kawanmu. Ubah kawanmu ini menjadi “suatu masalah”, atau “pertanyaan umum”. Agar cerita dan informasi yang kamu berikan, berguna untuk orang lain yang seperti Shinta atau Bram. Ia akan senang dan mengatakan kepada orang lain, “Saya mendapatkan surat dari kawan saya, yang sangat menyenangkan. Dia tahu keadaanku. Keadaan yang juga kamu alami. Maukah kamu membacanya?”.

Menulis, menggambar, public speaking, membuat video, semua itu bukan untuk angka, bukan untuk konsumen, namun untuk “seorang” manusia.

Jika kawanmu senang, ia akan balas. Atau surat itu diteruskan, dibagikan kepada orang lain. Jika dan hanya jika tulisanmu sangat bernilai dan merasakan “tulisan ini untukku”.

Satu orang, berarti banyak orang. Masalah seorang Shinta, pertanyaan dari seorang Bram, jika kamu bisa menjawab, sama dengan menjawab 1000 orang. Surat itu menjadi hak milik Shinta. Bram juga merasa surat itu khusus untuknya.

Satu orang dengan masalah yang dialami orang lain. Satu orang dengan keadaan yang tidak terlalu berbeda dari orang lain.

Mungkin kawanmu ini sering kesulitan memilih film, orang lain juga banyak yang mengalami masalah serupa. Atau ia ingin tahu cerita di balik vaksin COVID-19. Atau resah dengan “bekerja dari rumah”.

Ceritakan apa adanya, dengan bahasa kawan. Sebut dengan “kamu”. Mulailah bercerita.

Sebentar. Mengapa harus dengan cerita?

Kamu sedang berbicara dengan manusia lain. Paling efisien, jika kamu membingkai pesan dalam bentuk cerita.

Suatu cerita akan menghubungkan 1000 pikiran di dalam forum, untuk “menebak”. Cerita memiliki “moral” (kandungan pesan). Membingkai fakta. Berisi selingan percakapan. Kronologi. Konteks. Merangkul lebih banyak lapisan pembaca. Menumbuhkan empati. Membawa seseorang ke momen terperanjat. Melibatkan mereka dalam percakapan lebih-lanjut. Cerita dapat lebih mudah diingat. Cerita menyadarkan seseorang tentang apa yang bisa mereka lakukan setelah membaca. Cerita menunjukkan apa yang terjadi jika “masalah ini” tidak segera terselesaikan. Cerita membuat orang percaya. Mengambil keputusan. Cerita memberikan konteks, bukan hanya data. Cerita bisa menjadi jembatan lintas-hobi, antar-generasi.

Ambil kertas, tuliskan gagasanmu untuk seorang teman. Kemudian lipat dan masukkan ke dalam amplop. Untuk pembaca terbaik, yang mau menyimak tulisanmu.

“Saya pernah 2 jam menyunting tulisan, hasilnya, masih saja ada salah-eja dan salah-tulis. Ternyata ada piranti bawaan browser yang bisa periksa ejaan dan tulisan. Mau tahu caranya?”. Buatlah pembuka yang jujur, yang menceritakan bahwa kamu sudah buktikan apa yang kamu katakan.

Menceritakan kegagalan, bukan untuk menyerah. Agar orang lain belajar dari pengalamanmu. Kamu tidak terjatuh, kamu tidak mengeluh. Kamu menemukan arti belajar menjadi lebih baik daripada kemarin.

Selanjutnya, kamu tidak butuh amplop lagi. Kamu sudah tahu kelanjutannya. Setiap hari, kamu punya kesempatan menulis, menyapa orang lain, dan membuat mereka merasakan nilai terbaik dari tulisanmu.

Saya orang yang gagal 999 kali dalam editing, namun pada langkah ke 1000 pembaca hanya melihat 1 tulisan yang ingin saya berikan kepada mereka. Setiap hari ada kesempatan terbaik untuk para pembaca yang sudah menunggu tulisanmu. Mari menulis. [dm]

Versi Surga

Kehilangan Pembaca