in

Tinggalkan Niche

Terseret dalam monetize, hilangnya kesenangan menulis, dan tidak untuk jangka-panjang. Jangan lagi begitu.

Ketika belajar ngeblog, pikiran saya sempat rusak karena iming-iming niche. Apalagi datang dari BlackHat.

Saran ini sering diingat para blogger. Pilih niche, cari keyword yang relevan, buat postingan. Ada metode silo, belt (sabuk), corner artikel, dst. Tujuan menetapkan niche, untuk menetapkan otoritas, menaikkan ranking, membangun traffic dan audiens, untuk konsistensi, dan monetize. Orang memikirkan monetize.

Saya berhenti. Saya masih memakai taktik optimasi content dan SEO, namun tidak seberapa mendewakan faktor “algoritma” ketika menulis. Saya sadar, ini pilihan yang bukan sekadar “tampil beda”.

Menulis berdasarkan niche, sebenarnya mengundang banyak bahaya tak-terlihat. Coba tanyakan ke diri sendiri, “Apakah -saya- membutuhkan niche?

Mitos niche menyebar karena monetize. Bahwa content bisa diuangkan, jika traffic tinggi dan pengunjung mau klik atau bertransaksi melalui content kamu.

Kita sering melihat saran yang sama. Begitu bicara tentang “sepeda gunung”, content yang akan keluar adalah sebagaimana riset keyword “sepeda gunung”. Sangat statistik.

Kamu tidak memerlukan niche untuk inspirasi menulis, jika itu berbahaya.

Niche membatasi kreativitas kamu, secara artifisial. Sebagian besar orang memilih mencari untung dengan patokan niche, keyword terkait, “klik di sini”, serta “jangan lupa like, comment, dan subscribe”. Pilihanmu. Mau membatasi kreativitas kamu atau sesuai naluri kreatif kamu?

Banyak orang menjadi bosan karena berkutat di 1 focus keyword; misalnya: “bermain game mobile legend sambil streaming”. Memilih 1 focus keyword adalah pertarungan mental melawan diri-sendiri. Percayalah, kamu memiliki lebih dari 1 keinginan. Kebanyakan orang, bercerita, bahwa mereka bosan dengan “focus keyword” ini. Mereka awalnya percaya kesenangan, namun berikutnya mereka berhadapan dengan satu hal di antara ini..

  • Kehabisan ide.
  • Bosan. Bosan dengan diri-sendiri. Bosan dengan sendirinya.
  • Mati-gaya.
  • Terbatas.
  • Kehabisan bahan.
  • Perulangan.
  • “Semua yang saya katakan, rasanya sudah habis.”

Niche yang kamu pilih, sudah dihabiskan orang lain.

Riset keyword, berarti kamu datang belakangan. Mencari peluang dari apa yang sudah ada. Itu berarti, pikiran kita dibentuk oleh orang lain. Yang sedang ngehit.

Pikirkan kemungkinan lain: apa yang terjadi ketika kamu berubah pikiran?

Kekeliruan sering datang, ketika kamu merasa dibutuhkan pembaca atau pemirsa. Asalnya, dari rating keyword yang kamu riset. Ketika kamu posting, dapat banyak view, dan kamu merasa dibutuhkan orang. Ini pemacu dopamine yang berbahaya. Kepuasaan instan, temporer.

Pada saat yang sama, kamu dianggap sebagai “ahli”, namun sebenarnya kamu tidak terlalu ahli di niche ini. Kamu menjadi ahli palsu. Demi persaingan rendah dan nilai klik yang lumayan, banyak orang memilih belajar di sekitar niche ini. Menjadi ahli, tidak bisa dalam sekejap.

Tuliskan sesuatu yang berjalan. Jangka-panjang. Misalnya, kamu sedang kuliah, ceritakan saja duniamu. Buku yang kamu baca. Cara kamu mengatasi masalah. Pertanyaan yang belum terjawab. Bagaimana kamu belajar.

Apakah Anda memerlukan niche blog? Ini dapat membantu di awal, tetapi juga dapat merusak peluang Anda untuk mengembangkan kerajaan blog Anda dalam jangka panjang. Alih-alih, bangun jalur blogging dan nikmati audiens organik dan alami yang tumbuh darinya.

Lebih baik, ceritakan hidup dan kepribadian kamu dalam tulisan. Ini tidak akan ada habisnya.

Baca tentang niche, namun jangan membatasi hanya seperti apa kata keyword research kamu. Jangan biarkan dirimu terseret dalam monetize, jika itu hanya menjadi gejala (symptom) dan membunuh kreativitas kamu. Miliki tempat di mana ide kamu tidak hanya untuk diuangkan. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.