in

Bagaimana Saya Menulis 400 Entri dalam 30 Hari di Catatan Harian

Yang bernilai untuk diri sendiri. Stop main media sosial. Buat scrap book. Jawab pertanyaan harian. Rajin meringkas.

September 2021. selama 30 hari, saya menuliskan catatan harian. Total ada 400 entri. Saya akan ceritakan, bagaimana cara saya bisa menulis sebanyak itu. Spoiler: kamu juga bisa.

Saya menulis catatan harian di aplikasi JournalIt. Tidak harus dengan aplikasi ini. Hanya dengan FiiNote, kamu juga bisa menulis catatan harian. Jika kamu ingin menulis hanya 1 entri dalam sehari, waktu yang kamu butuhkan tidak lebih dari 15 menit. Saya sudah menuliskan tutorial menulis catatan harian dan bagaimana meluangkan 15 menit sehari untuk menulis catatan harian.

Konten Kaya dan Bermanfaat

“Konten kaya” berarti “bukan hanya teks”.

Pada prinsipnya, saya menulis catatan harian bukan dalam bentuk klasik. Tidak menceritakan adegan. Ini prinsip penting agar kamu bisa bebas menulis. “Saya menulis dengan content yang kaya.”.

Tidak hanya teks. Kamu bisa menambahkan link, foto, video, quote, chat, dll. Selagi itu penting (sekarang ataupun nanti), simpan saja di catatan. Jadi, “konten kaya” berarti “bukan sekadar teks”. Ada video di TikTok tentang “musik tumbuhan”, yang menurut saya sangat bagus, saya upload ke JournalIt. Kalau kamu tidak pakai versi premium, screenshot saja, tuliskan username TikTok itu.

Kamu sudah dapat 1 entri.

Kamu sendiri yang harus bilang, “Konten ini sangat bermanfaat sekarang atau nanti.”.

Begitu suatu konten kamu pasang, berikan komentar. Mengapa kamu bookmark video ini? Apa menariknya?

Visual Diary dan Sonic Profile

Saya punya tag bernama “visual diary”. Isinya, foto yang bercerita, tentang suatu momen yang terjadi dalam hidup saya, hari ini. Misalnya, saya bangun dan mendengar adzan, kemudian saya melihat buah delima dan jambu yang sudah matang. Saya potret atau buat video 15 detik.

Sekali lagi, saya percaya, ini momen yang menurut saya hari ini perlu saya kenang. Betapa keren, bangun tidur bisa mendengarkan adzan, suara burung, dan melihat buah masak.

Visual diary saya berhubungan dengan hal-hal rahasia. Beli komputer, saya potret dan masukkan ke visual diary.

Kalau berupa suara, berarti “sonic profile”. Saya jelaskan tentang “sonic profile” dalam “Seni Mengamati“.

Setiap memasang foto di catatan harian, saya berikan caption. Tidak mentarget harus berapa kalimat, paragraf, atau karakter. Saya tuliskan saja.

Ini akhirnya catatan harian saya mirip media sosial yang sangat memuaskan saya. Orang lain nggak ada urusan dengan isinya. Ada banyak foto, video 8-15 detik, yang saya beri tag lokasi, dengan caption yang membuat saya langsung teringat, “Eh, kemarin saya pernah begini..” dalam hitungan detik.

Kamu pernah buka Pinterest untuk cari ide? Saya selalu buka Pinterest. Ada banyak gambar menarik yang bisa menjadi inspirasi kamu. Saya menghargai browsing di Pinterest, senilai dengan berdiskusi berjam-jam dengan orang. Pinterest punya informasi berkaitan dengan riset, infografis, tipografi, apa saja yang saya suka, bisa saya segarkan dengan Pinterest.

Saya belajar membuat “canvas” dan mengerjakan ide, sebagian dari bantuan Pinterest.

Tanpa Media Sosial

Rahasia terpenting lagi, jangan posting di media sosial.

Ini sangat tidak saya sarankan. Ketika kamu posting di media sosial, berisi hal-hal pribadi, seperti: menu sarapan, sedang di mana, barang baru, luapan emosi, dll. kamu berhadapan dengan autofeedback dari sekian persen kawanmu, dan mengganggu langkahmu berikutnya. Mereka tidak memperbaiki kualitas hidupmu secara langsung. Mereka memicu reaksi kamu. Sangat berbeda ketika kamu menulis untuk dirimu sendiri.

Saya punya prinsip ekstrem, sejak 2017, berkaitan dengan media sosial bernama Facebook. Lebih baik 15 menit saya pakai untuk mempertajam skill, daripada scroll dan berkomentar nggak jelas di Facebook.

Selalu Singkat

Prinsipnya, “Tulis intinya, detailnya nanti.”.

Saya berlatih menulis sesingkat mungkin. Saya tidak butuh menjelaskan kepada orang, tentang detailnya.. karena ini adalah catatan harian saya.

Misalnya, suatu hari saya berhadapan dengan komputer kawan saya yang superkacau. Browser yang terinfeksi. Kekhawatiran terkena trojan. Segala macam hal yang terjadi lebih dari 17 tahun yang lalu dan bisa diselesaikan dengan cara-berpikir 17 tahun yang lalu. Saya ingat 1 kata kunci: “sand box”. Di catatan harian, saya hanya menulis: “Gunakan sand boxie kalau mau eksperimen dengan kesalahan”.

Di tengah aktivitas me-repair komputer kawan saya ini, saya menulis.. Sandboxie, fungsinya, download di mana, dan cara pakainya. Dengan sangat cepat. Yang penting, saya dapat 1 entri yang isinya sangat dibutuhkan orang yang tidak ingin komputernya terkena virus.

Saya merasa senang bisa mengatasi masalah kawan saya dan menuliskan sand boxie di catatan harian.

Ringkasan

Saya suka membaca artikel dan content panjang. Agar terjadi retention dan saya bisa ingat dalam jangka-panjang, biasanya saya buat ringkasan.

Jadi, adegannya begini. Buka browser. Buka content yang sedang kamu baca. Kemudian, saya copy-paste artikel itu di Graph. Saya buat ringkasan seringkas mungkin. Kemudian saya copy hasilnya ke catatan harian. Apa yang terjadi kalau kamu baca 20 artikel dalam sehari? Kamu punya 20 ringkasan.

Apa yang terjadi kalau kamu semakin sering meringkas? Semakin cepat kamu paham dan ingatanmu akan terlatih. Efek yang terjadi kemudian: kamu mengetik dengan cepat, memeriksa ejaan dengan cepat, menulis lead dengan cepat, dan bahan yang sudah jadi bernama artikel tadi, bisa kamu tulis-ulang atau kamu kembangkan dengan bahasamu sendiri. Dalam beberapa hal, biarkan quote menjadi quote.

Tidak semuanya harus kamu ringkas.

Ingatlah, salah satu tujuan menulis catatan harian adalah kelak kamu bisa baca lagi.

Saya suka merekam dan mendokumentasikan aktivitas. Sebisa mungkin, orang lain tidak tahu. Tidak untuk saya sebarkan. Ini untuk diri sendiri. Kadang, ketika ide tidak sempat kamu tuliskan “sekarang”, cara tercepat adalah dengan merekam audio. Rekam, simpan, pasang di catatan harian. Nanti bisa kamu dengarkan atau kamu perbaiki sebagai tulisan.

Catatan harian yang baik, tidak sekadar memuat tulisan.

Saya Punya Kebiasaan

Yang saya rawat sejak lama.

Salah satunya, membaca buku. Saya membaca ebook. Membaca sambil menambahkan highlight, memasukkan ke dalam ringkasan. Satunya lagi, menuruti rasa penasaran. Setiap hari saya bertanya ke diri sendiri, kemudian mencari jawabannya. Pertanyaan yang tepat, bisa memicu perjalanan menyenangkan. Saya punya kebiasaan lagi, mempertajam kemampuan. Sekalipun hanya 10 menit, dengan intensitas kuat, kita bisa belajar banyak hal.

Dan simpan hasil belajar itu di catatan harian. Kamu akan berterima kasih kepada dirimu sendiri, karena tidak malas menulis.

Awali dengan kemampuan melihat sesuatu yang bermanfaat dan hargai waktu kamu dengan cara mengenangnya sambil-jalan. Hidup terus berjalan, jangan menutup hidup kamu dengan cerita lisan.

Tulis catatan harian kamu mulai sekarang. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.