(Credit: Jack Moreh)

Sebelum Saya Memberikan Solusi

Identifikasi masalah dan kembalikan “solusi” ke proses.

Saya sering mendapatkan ajakan workshop manajemen media online. Atau permintaan konsultasi terkait produktivitas kerja. Mereka menganggap saya memiliki 1 solusi ampuh dan bisa diterapkan dalam situasi mereka. Benar, saya memiliki banyak perangkat dan metode untuk lebih produktif. Saya punya model mental yang terus berkembang. Saya menyelesaikan masalah apapun dengan strategi berpikir. Namun saya tidak pernah sekalipun menganggap ada 1 metode dan pemecahan terbaik, sebelum mengerti konteks dan situasi yang dialami orang lain.

Pertanyaan saya selalu, “Benarkah ini masalahnya?”. Identifikasi masalah lebih dahulu. Kembalikan dari “solusi” ke “proses”.

Dari Solusi ke Proses

Jauhkan dari harapan “apa yang harus saya lakukan” ketika menjadi konsultan. Ubah dari “apa” menjadi “bagaimana”.

“Bagaimana” berarti proses. “Apa” biasanya tentang harus menjadi apa. Menjadi pegawai seperti apa. Diberitahu apa tujuan perusahaan ini.

Tidak mudah berpikir “bagaimana”. Sekolah sering mencetak model pembelajaran yang berisi persyaratan, penugasan, reward, dan spesifikasi. Sekolah menilai kertas dan jawaban tentang “apa”, dengan cara memfilter jawabanmu berdasarkan persyaratan, membandingkan dengan jawaban “benar”. Banyak pelatihan (training) yang dikerjakan seperti sekolah. Mempelajari “apa”, mengikuti aturan, dan mengharap hasil “seperti ini”. Mereka tetap tetap sebagai “sekolah alternatif”. Hanya berbeda tempat dan penyelenggara.

“Bagaimana solusi untuk masalah ini?”. Kamu boleh tanyakan itu, hanya jika sudah melakukan identifikasi masalah.

Hapus kata “solusi”. Ubah menjadi “proses penyelesaian masalah”.

“Solusi” menjadi “Masalah > Hipotesis > Riset > Rekomendasi”.

Dalam pertemuan untuk memecahkan masalah di lembaga penerbitan, saya sering mendengarkan tawaran “solusi” untuk mengatasi problem produktivitas dan kreativitas. “Menulis kreatif” dan posisi media di tengah persaingan, dalam setiap lembaga, selalu spesifik. Mereka bilang, “Kita perlu mengadakan pertemuan rutin”, “Setiap orang harus menulis minimal seminggu sekali”, “Kita perlu pelatihan khusus tentang..”.

Saya pernah mendapatkan misi dari suatu lembaga, untuk mengajari seseorang, agar ia bisa menulis dengan cepat. Pada saat hampir bersamaan, ada seorang klien yang ingin menaikkan brand awareness. Ia punya solusi, dengan menaikkan backlink. Ia mengharap keajaiban.

Saya tidak mau memberikan solusi, sebelum mengidentifikasi masalah. Perspektif saya, bukanlah trainer. Saya bukan seorang pekerja yang akan menerima apapun permintaan client. Yang saya perlukan adalah mempertanyakan tawaran “solusi” dari klien, di mana ia meminta saya menyelesaikan itu. Yang saya tawarkan adalah mengidentifikasi masalah dengan ketat.

Benarkah ini masalahnya? Dengan perspektif apa kamu berani bilang kalau itu suatu masalah?

Identifikasi masalah dengan ketat, hasilnya bisa berupa pendekatan yang lebih efisien dan efektif.

Bagaimana bisa, seseorang yang sudah bekerja seumur hidup, bisa tiba-tiba sakit, dengan biaya penyembuhan yang menguras harta mereka? Bagaimana bisa, seseorang yang sudah begitu lama mengerti apa itu membaca, buku, jalan-jalan, bertemu banyak orang pintar menjadi tidak bisa menulis?

Saya selalu mempertanyakan. Riset hampir 8 jam sehari. Bukan untuk menemukan “metode terbaik” atau “solusi terbaik”. Hanya untuk melihat gambar besar, peta masalah yang apa adanya. Solusi akan terjadi, kalau sudah melakukan identifikasi masalah.

Itu sebabnya, setiap klien saya perlakukan dengan unik. [dm]